Blog

Fenomena Fast Fashion

Tidak dapat dipungkiri, fenomena “fast fashion” yang berkembang berimplikasi dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Istilah “fast fashion” itu sendiri merupakan koleksi busana murah mengikuti tren merek-merek mentereng yang diproduksi dalam waktu yang cepat. Dalam perkembanganya, pakaian yang selama ini dikenakan tidak lagi hanya sebatas pelindung tubuh, akan tetapi juga menjadi penanda status sosial seseorang. Permintaan akan model pakaian terbaru, membuat tren fashion berubah dengan cepat. Sehingga muncul konsep ready to wear yang mengimplementasikan tren desainer internasional dalam bentuk pakaian dengan harga yang terjangkau serta jumlah yang banyak.

Tuntutan tren mode pakaian terbaru, membuat industri pakaian berlomba-lomba memproduksi jumlah pakaian secara massal. Berdasarkan data fastretailing Terdapat beberapa pemain besar yang menguasai industri “fast fashion”. Di posisi 3 besar ditempati nama-nama branded seperti INDITEX (ZARA), Hennes & Mauritz (H & M), dan UNIQLO. Angka penjualan mereka fantastis. Update per November 2018, penjualan INDITEX mencapai 29.54 miliar dolar AS, diikuti oleh H & M (21.92 miliar dolar AS) dan UNIQLO (19.18 miliar dolar AS).

Disisi lain, tren “fast fashion” ternyata menyumbang polusi yang berdampak pada lingkungan!!

lho..lho.. bagaimana bisa?? sebab, efek dari adanya tren tersebut di berbagai negara mengakibatkan orang mudah sekali untuk gonta-ganti pakaian, sobat yancubers. Siklus mode kini hanya bertahan 6-8 minggu untuk kemudian berganti dengan yang baru. Lewat dari itu, pakaian tersebut bisa dianggap out of the date karena konsumen tidak ingin memakai pakaian yang sama meskipun pakaian tersebut masih dengan kondisi yang bagus.

Lalu bagaimana nasib pakaian-pakaian bekas dari efek fenomena fast fashion?

Penelitian Ellen Macarthur Foundation dalam jurnal yang berjudul a New Textiles Economy:Redesigning Fashion’s Future menjelaskan bahwa 20 persen pencemaran air bersumber dari industri tekstil. Hal ini dikarenakan industri tekstil memerlukan 93 miliar meter kubik air per tahun-nya untuk produksi. Sebagian besar industri tekstil bersumber dari bahan non-renewable atau yg tidak dapat diperbarui. Harus diakui, pembuangan limbah air dari produksi tekstil mengandung bahan kimia beracun dan berbahaya bagi lingkungan. Belakangan diketahui Industri tekstil yang telah diidentifikasi sebagai penyumbang besar limbah plastik masuk ke dalam laut. Diperkirakan terdapat sekitar setengah juta ton mikrofiber per tahunya hasil dari pencucian bahan tekstil non renewable seperti nylon dan polyester yang berdampak meningkatnya kadar plastik di lautan.

Dalam penelitian tersebut, Ellen mengusulkan berbagai bauran kebijakan ramah lingkungan berdasarkan “New Textiles Economy” yang selaras dengan prisip-prinsip ekonomi sirkular. A New Textiles Economy harus sesuai dengan 4 ambisi, yakni: 1) Mengurangi atau menghapus secara bertahap penggunaan material mikrofiber, 2) Meningkatkan nilai guna pakaian 3) Gencar melakukan daur ulang dan 4) Meng-effektifkan penggunaan sumber daya yang bersifat renewable. Salah satu perusahaan yang telah mengadopsi usulan Ellen adalah Hennes & Mauritz (H & M). Sebagai merek mode ternama dunia, H & M melakukan langkah inisiatif untuk fashion yang ramah lingkungan dengan bahan yang sustainable. Selain itu H & M berkolaborasi dengan perusahaan yang bergerak di bidang daur ulang busana bekas menjadi bahan baru. Pakaian bekas tersebut dikumpulkan dan di sortir untuk dibuat menjadi garment baru seperti filler sofa, isi bantal dan lain-lain.

Baca juga : All about Fashion Quotes

Related posts

Leave a Comment